SEGITIGA
PERSELINGKUHAN
Hana,
memandang keluar jendela. Pemandangan yang tidak indah, karena yang nampak di luar sana
hanyalah kegelapan. Tapi lumayan buat mengalihkan perhatiannya dari sosok diri
yang sedang terbaring di tempat tidur. Sebetulnya pikirannya tetap ke arah
lelaki itu, lelaki yang selalu membuatnya gila pada gelora cinta yang tak
pernah musnah. Hana selalu terlena pada geliat panasnya, sensasi desah yang
menggelora itu, menebar kehangatan keseluruh tubuh, hingga tidak ada satu bagian tubuhpun yang tidak bereaksi oleh
sentuhannya.
Hana memejamkan mata, butir-butir airmatapun tak
mampu lagi dia bendung, “ ini salah, sangat salah.” Demikan nuraninya bicara.
Tapi apalah daya Hana, ketika sekian tahun hasrat manusiawinya tak pernah lagi
tersentuh oleh kehangatan makhluk yang bernama laki-laki. Kemudian datang dia,
seseorang dari masa lalu yang bertemu kembali
setelah sekian tahun terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Dan tiba-tiba dia
muncul lagi menawarkan kehangatan cinta yang telah lama padam dari
kehidupannya. Hana mengutuk dirinya, Hana mengutuk suaminya, Hana juga mengutuk
laki-laki itu, dan hana mengutuk syetan-syetan yang sedang menari-nari di
sekelilingnya.
Perkawinan
macam apa yang di jalani Hana dan Farhan, suaminya. Sepuluh tahun yang sudah
dijalani, hanya 6 bulan pertama dilalui dengan gelora cinta membara, selebihnya
hanya ada malam-malam yang dingin dan hati yang makin lama makin membeku.
Setelah lahir seorang anak yang sekarang berusia 8 tahun, tak pernah lagi dia
merasakan sentuhan hangat dari Farhan.
“Apa
aku ini terlalu jelek di matamu, Mas farhan?, atau badanku bau?, kenapa kamu
selalau menolakkku?” tanya Hana suatu hari dengan perasaan yang sangat terluka
ketika farhan menolak sentuhannya.
“Kamu
ngomong apa sih, Han, tolonglah mengerti, aku sangat lelah dan banyak kerjaan
kantor yang menguras pikiran.” Jawab Farhan
“Lantas
sampai kapan aku harus menunggu?, ingat ya, Mas, kalau kamu ga bisa kasih aku
uang, aku bisa cari uang sendiri, tapi kalau kamu tidak memenuhi kebutuhan batinku,
aku harus minta pada siapa?, ga mungkin aku minta pada laki-laki lain, kan?,
itu berarti aku harus berzina dan menodai perkawinan kita, iya, kan?”
“Hana,
cukup!, apa kita harus bertengkar Cuma gara-gara ini?”
“Cuma….?,
Mas, ini masalah serius, jangan dianggap remeh.”
Farhan
kelihatan sangat marah dengan desakan
Hana, dia keluar kamar dengan membanting pintu, begitu dan begitu seterusnya.
Hana selalu di tinggalkan dengan perasaan terhina akibat penolakan dari Farhan,
pertengkaranlah yang akan terjadi kalau Hana sedang menuntut haknya sebagai
isteri, dan Hana Cuma bisa menangis,
”perkawinan macam apa yang dijalaninya dengan Farhan?”, gumamnya. Salah satu
tujuan perkawinan adalah menyalurkan hasrat libido secara halal, tapi kalaau
sudah seperti ini…?
Hana
bertahan pada perkawinan ini, hanya karena tidak berani menghadapi pandangan
buruk masyarakat terhadap gelar janda. Dan Farhan?, tidak sedikitpun merasa
bersalah dengan situasi ini. Tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk
konsultasi ke dokter atau berobat dengan cara lain, agar bisa menjalani
mahligai rumah tangga yang normal, yang saling mengerti hak dan kewajiban suami
dan isteri. “Bodohnya aku….” Bisik Hana lirih.
Yah,
Hana merasa bodoh, padahal kalau saja dia berani memutuskan jalan hidupnya,
pasti dia tidak akan seperti ini sekarang. Kenapa dia harus melakukan hal
sehina ini bersama Rizal, kenapa tidak dengan jalan yang halal saja, dia minta
cerai dari farhan, kemudian dia menikah dengan Rizal. Hana semakin terisak
memikirkan jalan hidup yang dilaluinya. “Ya Allah, masih pantaskah aku menyebut
namaMu, setelah aku menjadi hambaMu yang hina dina ini?, kenapa aku sampai bisa
mengorbankan keimananku, hanya karena nafsu bejad ini, ya Allah?”.
Di
sinilah Hana sekarang, di sebuah penginapan kecil di luar kota, bersama seorang
lak-laki yang bukan muhrimnya, dan ini bukan yang pertama kalinya, tapi yang
sudah sekian kali dilakukannya. Pekerjaan yang sering mengharuskan dia dinas ke
luar kota, memudahkan dia menjalankan perselingkuhan ini, tanpa harus bersusah-susah
mencari alasan untuk izin ke Farhan bila hendak ke luar kota, karena hal ini
sering dia lakukan untuk dinas. Sejak satu tahun terakir ini, dinas ke luar
kota menjadi dinas yang paling disukai Hana, karena dia akan langsung menelpon
Rizal untuk menyusulnya ke daerah manapun dia berdinas, dan Rizal yang memang
tidak punya pekerjaan tetap selalu siap
kapanpun, jika Hana memintanya menyusul.
Rizal
adalah kekasih Hana semasa dikampus dulu, harus berpisah karena Rizal harus
menikahi wanita pilihan orang tuanya dengan alasan satu suku. Yah, satu suku.
Tapi tiga tahun yang lalu, isteri Rizal meninggal, dan kini Rizal seorang duda
dengan 2 putra. Kembali datang ke kehidupan Hana sejak mereka bertemu di acara
Reuni teman-teman sekelasnya waktu di kampus dulu. CLBK, itu benar. Hana
terjerat perasaan lama yang ternyata masih tersimpan rapih di hatinya, dan
Rizal menjerat Hana dengan pesona kejantanan yang dimilikinya. Namun Hana tidak
tahu apa Rizal pun masih menyimpan cinta untuknya atau hanya nafsu syahwat yang
dia tawarkan, bagi Hana setahun bersama Rizal tidak perlu memikirkan tentang
cinta, tapi kehangatan yang dia rindukan, dan Rizal punya itu.
Hana
berpaling ke arah rizal yang terbaring di ranjang, Hana menghampirinya, dan
duduk ditepi Ranjang di samping Rizal, dia mengambil tisu yanag ada di atas
nakas di samping tempat tidur. Di bersihkannya mulut Rizal, dan Hana menunduk
mencium Bibir Rizal dengan mesra, Rizal diam tak bergeming. Kemudian Hana
Mengelus wajahnya. “Aku mencintaimu, Zal, sekaligus sangat membencimu, sejak
aku tahu apa yang kamu lakukan di belakangku, setelah pengorbanan besar yang ku
berikan padamu, tidurlah yang nyenyak….aku akan menemanimu, selamanya….” Bisik
Hana di telinga Rizal. Dan Hana pun berbaring di samping Rizal, dipejamkan
matanya sambil menggenggam tangan Rizal, sementara Rizal tetap tak bereaksi.
Ternyata
mata Hana tak hendak terpejam, pikirannya melayang, ke peristiwa empat hari
sebelum Hana berangkat dinas ke luar kota. Hana bertemu dengan sahabatnya
Latifa di pusat perbelanjaan, pertemuan yang tidak direncanakan itu
menyenangkan mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang di salah
satu café yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Obrolan yang ngalor ngidul
itu akhirnya berujung pada curhatan Latifa yang membuat Hana terkejut dan
shock.
“Suamiku,
Mas Hanif, menceraikan aku.”
“Kenapa?”
“Dia
tahu kalau aku berselingkuh, Han.” Latifa tertunduk ketika menceritakan itu.
“Tolong jangan ceritakan ini pada teman-teman yang lain, aku mempercayaimu,
Han, kamu sahabat terbaikku, makanya aku berani cerita.”
Hana
terdiam, dia tidak menyangka Latifa begitu percaya kepadanya sementara dirinya
sendiri tak akan pernah membiarkan orang lain tahu, betapa dirinyapun sangat
kotor dan tak bermoral, “Boleh aku tahu laki-laki itu?” tanya Hana. “Maaf, itu
kalau kamu tidak keberatan.”
Latifa
ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia beranikan diri juga untuk berterus pada
Hana. “Dia Rizal, Han, mantan kamu waktu dikampus dulu.”
“Apa….???”
Tanya Hana kaget.
“Han,
please, kamu kaget bukan karena
marahkan?” Latifa balik bertanya.
“Oh…eng….engga….ga
apa-apa, Cuma ga nyangka aja, ko bisa?” jawab Hana, berpura-pura tidak ada
apa-apa. “Terus, akhirya bagaimana Hubungan kamu dengan Rizal?”
“Setelah
aku cerai enam bulan lalu, dia malah kabur, Han. Ternyata dia hanya mau
bersenang-senang denganku, setelah aku memintanya serius dan bertanggung jawab,
dia pergi seenaknya”
“Sejak
kapan kamu berhubungan dengan dia?” tanya
Hana sambil menyimpan rasa sakit dihatinya.
“Sejak
dua tahun yang lalu, waktu teman-teman baru pertama kali mengadakan reuni
setelah beberapa tahun tidak bertemu, waktu itu kamu tidak datang kan, Han?”
Hana
hanya diam mendengar pertanyaan Latifa, hatinya sangat terluka mendengar
kejujuran Latifa, Jadi selama ini sahabatanya ternyata selingkuh dengan mantan
kekasihnya, dan yang sekarang menjadi selingkuhannya juga. Wajah Hana Pucat.
Akhirya dia pamit ke Latifa untuk segera pulang, dengan alasan kurang enak
badan. Latifa pun menyetujui dan mereka berpisah.
Sekarang,
Hana disini bersama Rizal. Dalam diam menahan luka dia lampiaskan nafsu
birahinya bercampur dengan nafsu amarahnya. Ternyata Rizal adalah bajingan yang
harus dimusnahkan, demikian teriak Hana dalam hatinya. Hana sudah mengorban
harga dirinya, keimanannya, moralnya, menganggap Rizal adalah cinta lamanya
yang bisa dijadikan tumpuan hidupnya kelak. Di dalam benaknya selama ini Rizal
sangat mencintainya. Tutur katanya yang selalu manis merayu membuat Hana
tersanjung dan mampu melupakan segalanya. Ternyata Rizal adalah petualang
cinta, yang menggoda wanita-wanita yang terpikat kepadanya, termasuk Latifa,
sahabat Hana. Dan Rizal tahu itu. Bahkan Rizal membina perselingkuhan dengannya
di saat dia juga sedang membina perselingkuhan dengan Latifa, apa ini…? Apa yang di cari Rizal….?.
Dalam
luka yang begitu dalam, mengenang masa lalu yang pahit bersama Rizal, karena
Rizal lebih memilih menikah dengan wanita yang di sodorkan orang tuanya,
kemudian menikah dengan Farhan yang sudah membuat dia seperti wanita yang bau
dan sangat jelek, sampai Farhan seakan enggan menyentuhnya. Kemudian Rizal
kembali datang dan kembali melukainya dengan luka yang lebih dalam, membuatnya
melambung tinggi ke awan kemudian membantingnya sangat kencang, dirinya,
hatinya, semua remuk redam, hancur berkeping seakan tak mampu hidup lagi. Hana
kembali menangis mengingat itu semua…
Baginya
hidup tak menerimanya lagi dalam kebaikan, hidup telah menjerumuskannya ke
lembah nista yang menjijikan, setan-setan berpesta pora merayakan kemenangannya,
berhasil merayunya merasakan kenikmatan terlarang yang sudah dia langgar,
seumur hidup Hana menjaga kehormatan dan
berusaha menjadi manusia yang selalu taat dan tawakkal, harus hancur di saat
usianya yang seharusnya berada pada ketakwaan yang tinggi.
Dalam
keterlanjuran dosa dan keterpurukan yang membuatnya putus asa, Hana gelap mata.
Malam ini diajaknyanya Rizal bercinta, mereguk surga dunia, melampiaskan
semuanya bersama desah yang menggila, seakan ingin meyalurkan hasrat sepuas
diri untuk terakhir kali. Rizal terkapar puas, Hana terkapar lemas. Tertatih
Hana membuat kopi yang kemudian di sodorkannya ke Rizal yang sudah duduk di
tepi ranjang . Lima menit kemudian Rizal merasakan sakit di perutnya, seluruh
badannya terasa panas. Rizal menggelepar-gelepar menahan sakit yang teramat
sangat.
‘Ha…….na….ap…ap….paaa…ini…?”
tanya Rizal dengan nafas tersengal dan mata melotot menatap Hana.
Hana
yang duduk di tepi dipan, tersenyum menyeringai sambil menahan takut, menahan
benci, menahan luka hati, dengan gemetar Hanapun menjawab, “i…tu…balasan
mu….laki…laki jahat…!.”
“A…ku….sa…lah…appppa,
Han…?” tanya Rizal dengan suara yang makin lirih.
Mendengar pertanyaan Rizal yang seolah tidak
pernah punya salah, kemarahan Hana memuncak. “Salah apa….? Salah mu adalah…kamu
menduakan aku dengan Latifa!, Kamu menjerumuskan aku kelembah nista, Kamu
membuat aku menjadi wanita binal dan gila!, Kamu…..???!!!!” Hana tak mampu
melanjutkan kata-katanya, diapun terisak dan meraung di samping Rizal yang
sedang sekarat. “Kamu ternyata orang jahat Rizal, huk….huk….huk…..aku
pikir…..perselingkuhan ini….akan berakhir bahagia, aku cerai…dari Mas Farhan,
dan kita menikah, tapi ternyata…..kamu
makin membuaku merasa hina….dengan menduakan aku dan Latifa, sahabatku.”
“Han,……to…long….a….ku….a….ku…”
Rizal terkapar, benar-benar terkapar. Matanya melotot, seluruh badannya
membiru, buih putih mengalir dari mulutnya, Hana duduk bersila disamping Rizal
yang sudah tidak bernafas, Bingung tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya,
entah apa yang dirasakannya sekarang, sedih, takut, marah, benci, dendam, semua
sudah samar. Dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari matanya, Hana meluruskan tubuh Rizal seperti sedang
tertidur rapi.
Sekarang
Hana terbaring di sisi Rizal, tatapan matanya kosong, dia meyakini apa yang
dilakukannya itu benar, Hidupnya sudah kadung serba salah, Seandainya dia tidak
melakukan ini, bagaimana dia menghadapi Farhan dan anaknya, kalau mereka sampai
tahu, kalau isteri atau ibu yang dianggapnya soleha ternyata sudah
berselingkuh, bagaimana dia menghadapi Latifa, sahabatnya, kalau Latifa sampai
tahu bahwa diapun berselingkuh dengan Rizal.
Hana
tak mampu lagi berfikir jernih, di baringkan tubuhnya di samping Rizal, setelah
sebelumnya diapun meneguk sisa kopi yang telah diminun Rizal. Kepedihan hati
yang sangat dalam, membuat Hana tak
mampu merasakan sakit akibat racun tikus
yang dituangkan Hana ke dalam kopi tersebut. Hana hanya meringis sambil
memejamkan mata dengan kerasnya, seperti Rizal, dia pun sempat menggelapar,
menggeliat menahan sakit, buih putih
keluar dari mulutnya, setelah itu Hanapun terkapar lemas dan akhirnya
tidur untuk selamanya di samping Rizal……..
HEADLINE
NEWS KORAN PAGI……DITEMUKAN DUA SOSOK MAYAT
DI VILLA BUKIT INDAH, DI DUGA PASANGAN SELINGKUH…..
By
: Fakhria Ilyas
Cikarang, 13
April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar