Sabtu, 29 April 2017

Menari Di Tepi Senja

Cerpen BP

MENARI DI TEPI SENJA

Aku memandang jauh ke depan, ke arah dimana matahari bersiap menyembunyikan dirinya, menebar bias jingga dan mencipta nuansa senja yang membuatku selalu rindu pada yang mencipta. Dari tepi laut di sebelah sini, ditemani semilir angin, liuk lambai pohon kelapa dengan sebotol aqua di tanganku, aku seakan enggan beranjak meninggalkan segala keindahan alam ini.
Melayanglah lamunanku pada legenda hidup yang melempar ku pada takdir yang tak kukehendaki. Takdir yang mempertemukanku pada teman hidup yang kucintai dan mencintaiku. yang tek perlu ku temukan rintangan untuk menyatukan cinta kami dalam kehalalan Ilahi.
“Ayah merestuimu, Nak, Ibumu juga” kata ayah dalam sungkem restu kami berdua.
Aku haru dan bahagia, Kang Asep pun tersenyum ceria, “Terima kasih, Ayah, Ibu”. Dalam ku ungkapkan terima kasihku.
Kebahagiaan berumah tangga, saling mencurahkan rasa cinta, tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Apalagi ayah langsung menghadiahi kami rumah yang kami rasa cukup besar untuk kami dan anak-anak kami kelak. Sikap Kang Asep yang lembut, dan dewasa, sholeh dan menjadi menantu yang bisa mengambil hati ayah, membuat kehidupan kami menjadi sangat mudah.
Sebagai seorang guru honor, gaji Kang Asep memang tidak seberapa, mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami walau belum di karunia anak. Tapi, ayah yang memang terkenal sebagai salah satu orang kaya di kampung kami, yang memiliki sawah berhektar hektar, tidak akan pernah sayang memberikan 2 hektar sawahnya untuk kami. Seperti yang telah ayah berikan juga kepada anak-anaknya yang lain. Dari hasil sawah itu kami merasa hidup berkecukupan, di tambah lagi Ayah sering memberikan uang secara langsung kepada kami anak-anaknya walau kami sudah menikah.
Dua tahun kemudian lahirlah putra pertama kami yang ganteng, persis seperti kang Asep, baik wajah maupun kulitnya. Kami beri nama dia Anugerah Pratama. Kemudian di susul dengan putri kedua kami, yang lahir di dua tahun berikutnya, dan kami beri nama Yunita. Selanjutnya menyusul lahir Puspita, putri ketiga kami, di usia ke enam perkawinan kami. Bener-bener perkawinan yang sempurna, memiliki suami yang sholeh, anak-anak yang ganteng, cantik-cantik, sehat, dan lucu. Apalagi yang ku cari dalam hidupku?, tidak ada.
Suatu hari, di usianya yang baru satu tahun, Puspita terserang sakit panas. Aku membawa Puspita ke rumah sakit, tanpa di temani Kang Asep yang kebetulan sedang sibuk mengajar, di samping itu aku memang terbiasa mengerjakan sesuatunya sendiri, karena buatku sebagai seorang isteri, aku memang lebih suka mandiri, tidak harus selalu menunggu suami pulang untuk melakukan sesuatu yang ku anggap penting. Apalagi ini berhubungan dengan kondisi anak yang sedang sakit. Nunu dan Yuni ku titipkan sama Ibu.
Di rumah sakit aku daftar ke bagian dokter anak, ternyata di sana sudah banyak pasien yang antri. Aku menunggu antrian dengan sabar, Untungnya Puspita  tidak cengeng, dia tertidur di gendonganku. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku ajak ngobrol seorang ibu muda sepertiku, yang sedang menggendong anaknya juga, yang paling hanya selisih 3 bulan lebih muda dari Pita. Parasnya cantik, dandanannya sedikit seksi, tapi  tutur katanya halus dan sopan. Kami berbincang banyak hal tentang pengsuhan anak, lumayan luas juga pengetahuannya tentang itu, aku sangat senang ngobrol dengannya, sampai tidak mendengar waktu suster memanggil nama puspita untuk masuk ke ruang dokter. Aku masuk ke ruang dokter. Setelah selesai Puspita di periksa, aku pamit kepada Siska, wanita  yang ngobrol denganku tadi, untuk segera menebus obat dan pulang.
Siska, ternyata  tinggal tidak jauh dari rumahku, masih satu kecamatan tapi beda keluharan. Kami sempat saling bertukar nomor telpon rumah, waktu kami berbincang asik di rumah sakit. Keakraban yang terjalin di rumahsakit itu, membuat kami ingin melanjutkan pertemanan ini, aku janji untuk datang ke rumah Siska suatu hari nanti,  bila ada kesempatan dan anak-anak sedang bisa di titipkan di rumah neneknya. Siska sangat berharap itu bisa terwujud.
Pas kesempatan itu tiba, datanglah aku ke rumah Siska.  Dia menyambutku dengan sangat ramah. Rumah kecil dan sederhana tapi sangat sejuk, dan asri. Karena di halaman kecil rumah itu di tanami  beraneka warna pohon bunga, “mari masuk Mbak Dian,” ajaknya sambil menarik tanganku ke dalam. 
“Si kecil kemana?” tanyaku, sambil duduk di kursi tamu setelah di persilahkan oleh Siska.
“Ada Mbak, itu di kamar, lagi dikelonin bobo siang sama papanya.”  Jawab Siska, sambil bangkit dan berjalan ke arah kamar, “pa, ini lho ada temanku, aku kenalin dulu yuk…” demikian ku dengar suara Siska dari arah kamar sedang memberitahukan suaminya tentang kedatanganku. Siska dan suaminyapun keluar kamar  dan aku mendapat kejutan yang sangat tak terduga.
“Kang Asep, Kamu……???”
“Dian….Aku…..”
Kuhampiri Kang Asep, dan tanpa sadar ku tampar pipinya dua kali dengan sangat kencang. Setelah itu aku berlari keluar tanpa memperdulikan keheranan Siska,  Ku kendarai motorku dengan kencang. Hatiku sangat hancur dan terluka, jiwaku limbung. Entah bagaimana aku bisa sampai ke rumah dengan selamat, hanya Allah yang tahu yang telah melindungiku. Aku berlari ke kamar dan menangis se jadi-jadinya. “Gila!, Ini gila!, jadi selama ini Aku sudah tertipu dengan tampang Soleh Kang Asep?,  Tuhan, kenapa harus aku?, kenapa harus aku yang Kau beri cobaan berat ini?” ku ratapi nasibku, duniaku  gelap seketika. Untung anak-anak ku titipkan di rumah Ibuku, jadi aku bisa melampiaskan tangisku sepuas-puasnya.
Tidak lama kemudian  Kang Asep muncul dihadapanku, rupanya dia segera menyusulku setelah aku pergoki dia di rumah Siska, selingkuhannya. “Dian, maafin aku…” 
“Pergi kamu, Kang!,  jangan pernah injakkan kaki kamu di rumah ini lagi!, Pergiiiiii!, aku muak lihat tampang polos kamu!” teriakku tanpa memberikan kesempatan dia untuk bicara.
“Dian…! Dengerin penjelasanku dulu…!”
“Pergi…..semuanya udah jelas! Kamu penghianat!, kamu memanfaatkan aku dan orang tuaku untuk dapat hidup yang layak, setelah kamu dapatkan itu, kamu menikahi kekasih yang sangat kamu cintai, yang kamu jadiin isteri siri kamu, dan menghidupinya dari uang orang tuaku. Menjijikan…! Pergi kamu sekarang..! Pergiiiii!!!” aku kembali berteriak.
Kang Asep pun pergi, meninggalkan kepedihan di hatiku. Hari-hari selanjutnya aku tuntaskan semua urusanku  dengan Kang Asep.  Bagiku, perbuatannya kepadaku tak termaafkan. Ternyata dia itu sudah berhubungan dengan Siska selama tiga tahun, satu tahun pacaran, kemudian menikah. Makanya, usia anaknya hampir se usia Puspita, putri bungsuku. Itu ku ketahui dari cerita Siska di rumah sakit, waktu dia sedikit menceritakan tentang suaminya. Aku bersyuku Allah menunjukkan penghianatannya dengan cara Allah mempertemukan aku dengan Siska, jadi aku tidak terlalu lama di bohongi oleh laki-laki keparat itu, laki-laki yang dengan mudahnya menodai arti suci perkawianan, padahal selama ini hidupnya sendiri masih bergantung pada orang tuaku.
Ayah dan Ibu yang mendengar masalah ini dari ceritaku tanpa aku tambah-tambahin, akhirnya mendukung keputusanku untuk cerai dari Kang Asep. Ayah dan Ibu ikut terluka pastinya. Pun dengan anak-anak, tapi ini yang terbaik, bagiku membesarkan anak-anak seorang diri itu lebih baik daripada aku membesarkan anak-anak dengan orang munafik seperti Kang Asep. Dan bagiku Dia sudah mati.
Semakin besar anak-anak semakin mengerti dengan pilihan hidupku, untuk tidak pernah membahas Ayahnya di depanku, walau aku memberikan kebebasan kepada mereka untuk menemui ayahnya kapanpun. Alhamdulillah mereka tumbuh menjadi anak-anak yang manis, sehat dan cerdas. Sekarang mereka masing-masing sudah berkeluarga.
Takdirku adalah kesendirianku, walau bukan takdir yang ku kehendaki. Tapi, aku terlanjur menikmati  kesendirian ini, menikmati hari-hari bersama kepedihaan luka yang teramat dalam.  Aku bahagia, bahagia karena telah meraih kesuksesan, mengantar anak-anak mewujudkan impian dan cita-cita mereka, meski dengan langkah terseok dan tertatih,  setelah terhempas dari harapan yang terlanjur menjulang tinggi. Dan kini, aku bahagia menikmati kematangan usia yang ku punya, menatap senja di kesenjaanku, menari di tepinya, di temani desir angin semilir. Dan disinilah Aku, menikmati sisa-sisa hari yang ku punya……

*****************

Fakhria Ilyas
Cikarang, 27 April 2017

Rabu, 26 April 2017

KESABARAN TANPA BATAS

KESABAR TANPA BATAS

            Acara pemakaman pun selesai sudah, tinggal menyiapkan acara tahlilan malam pertama di malam ini. Astuti menarik nafas panjang di saat tubuhnya yang lelah berbaring di ranjang. Sejenak dia ingin beristirahat di kamarnya sendiri, setelah sejak semalam dia bergadang dan belum sempat memejamkan matanya semenitpun. Nyaman rasanya berada di kamarnya sendiri tanpa di ganggu oleh tamu-tamu yang hendak berbelasungkawa, atas meninggalnya ibu mertua Astuti. Semua urusan untuk persiapan tahlil nanti malam sudah diserahkna Astuti ke adik iparnya, dengan terlebih dahulu memberikan uang untuk belanja berbagai kebutuhan untuk acara tahlil.
            Astuti mohon pamit sejenak untuk istirahat, karena memang dia butuh itu, agar dia bisa fresh di acara tahlilan malam nanti. Walau adik ipar yang diserahi tugas oleh Astuti agak tersenyum masam, namun Astuti mengacuhkannya. Tapi sayangnya, begitu Astuti di kamar di rumahnya sendiri, yang kebetulan bersebelahan dengan rumah mertuannya, dia tidak bisa memejamkan matanya, phisiknya sangat lelah, tapi pikirannya tiba-tiba melayang ke masa-masa disaat Mertuanya masih hidup dan sehat.
            “Tuti....!” teriak Bu Salimah memanggil Astuti
            Astuti yang sedang masakpun segera datang kearah suara mertuanya tadi, “Ada apa, Nyak,?” tanyanya berusaha sepelan mungkin.
            “Lu lupa, atau sengaja lupa?, kenapa di meja makan Enyak belum ada makanan buat makan siang?”
            “Maaf, Nyak, Tuti kesiangan masak, karena tadi harus ke sekolah anak-anak untuk ngambil raport mereka”
            “Alasan, bilang aja ga mau masakin buat Enyak lagi, ya udah Enyak tar minta siapin sama si Cucum aja” ketus Salimah menanggapi jawaban Astuti.
            Selalu salah, selalu di bandingkan dengan mantu-mantu yang lainnya, selalu di anggap ga pernah sayang mertua, itulah Astuti di mata mertuanya. Sebagai isteri Mardani yang anak tertuanya Enyak Salimah, Astuti selalu tersisih. Bagi Nyak Salimah Astuti adalah pesaingnya dalam memperebutkan perhatian anak laki-laki tertuanya, yaitu  Mardani. Padahal apa yang  bisa Astuti ambil dari Mardani, Uang?, Bang Mardani Cuma supir angkot serabutan, yang penghasilannya cuma cukup buat beli rokok dan minuman, bahkan itupun masih minta tambahan dari Astuti yang mendapat uang hanya dari usahanya sebagi tukang kredit barang keliling. Cinta?, apa yang Astuti rasakan dari  cinta seorang Mardani hanyalah sebuah fatamorgana. Sejatinya Mardani laki-laki yang kasar, ringan tangan, apalagi kalau lagi mabuk dan habis kalah berjudi.
            Apa yang dikatakan Nyak Salimah, tentang sikap anaknya ?, “lu banyak ngalah dong, Tuti, kalau Mardani lagi butuh uang, kasih. Jangan bikin dia marah, kan lu sendiri yang akhirnya sakit, di pukulin”. Astuti hanya terdiam kalau Nyak Salimah ngomong seperti itu. Percuma di jawabpun, karena ujung-ujungnya Nyak  Salimah akan mengadukan semua ke Mardani, dan Astuti pulalah yang menanggung akibatnya. Mardani marah dan kembali memukulnya.
            “Bu kenapa sih, Nyai marah-marah terus sama Nonon dan Dodi?” Tanya Nonon, putri sulung Astuti, suatu hari.
            “Mungkin Nonon ga nurutin kata-kata Nyai,” jawab Astuti berusaha menenangkan hati Nonon yang masih berusia 6 tahun waktu itu.
            “Lah, Nonon kan cuma ngebela Dodi, yang hampir mau dipukul sama si Boim, karena ga bisa mukul si Dodi, si Boim nangis, eh, malah Nonon yang dimarahi Nyai, sampe Nonon dibilang nakal dan di cubit segala sama Nyai,” Nonon bercerita sambil menunjukkan lengannya yang merah bekas cubitan.
            “Ya sudah, sini ibu kasih minyak kayu putih yah, biar merahnya cepat hilang, mungkin Nyai tadi lagi cape, terus kalian berisik.” Kata Astuti sambil berusaha nahan sedih melihat Nonon diperlakukan sangat beda dengan sepupu-sepupunya yang lain.
            Malamnya  harinya, saat Mardani pulang, dan suasana sudah dianggap santai, Astuti menceritakan peristiwa siang hari kepada Mardani, dia diam tidak menaggapi, tapi dia segera ke kamar Nonon untuk melihat keadaanya. Mardani hanya mencium Nonon, dan mengusap  lengan Nonon yang masih memerah. Kemudian Mardani pun memeluk Dodi.
            Hanya itu kebaikan Mardani yang bisa di lihat Astuti, Mardani sangat sayang terhadap anak-anaknya, dan anak-anakpun sangat menyayangi Ayahnya. Tapi tetap Mardani tidak akan bisa memarahi ibunya yang sudah berlaku kasar terhadap anak-anaknya. Karena bagi Mardani Ibunya adalah Ratu yang segala ucapan dan tindakannya tak terbantahkan.
            Seandainya Mardani bisa sedikit saja bertanggung jawab terhadap rumah tangganya, mau berbagi cerita, mau merawat anak-anak bersama-sama. mungkin Astuti tidak begitu menderita menghadapi sikap Ibu Mertuanya, Mertua yang sangat tidak bijaksana, bahkan sama sekali tidak perduli dengan sikap kasar Mardani terhadap Astuti.
.           “Baik dan buruk itu suami lu, Tut, kenapa  lu ngeluh sekarang, kan lu dulu yang mau nikah sama anak  Enyak” itu kata Nyak Salimah, setiap kali Astuti mengadukan sikapnya Mardani yang tidak mau bertanggung terhadap isteri dan empat orang anaknya..
            “Iya, Nyak, Tuti tahu, tapi apa Nyak ga bisa sedikit aja nasehatin Bang Mardani, mungkin dia akan nurut kalo Nyak yang ngomong.” Pinta Astuti
            “Ngomong apa maksudnya?”
            “Bilang ke Bang Mardani, Nyak, jangan suka pulang malam, mabuk-mabukan, apalagi Judi, kasihan anak-anak, Nyak, kalau mereka sudah mulai ngerti tentang kelakuan ayahnya”
            Ya , itu urusan lu, Mungkin lu nya aja yang ga bisa ngurus suami, jadi suami lu lebih milih bersenang senang di luar rumah”
            “Ya Allah, Nyak, kenapa Nyak jadi malah nyalahin Tuti?” Tanya Astuti dengan sedih. Nyak Salimah diam tidak menjawab, malah pergi meninggalkan Astuti yang masih bingung dengan jawaban Nyak Salimah yang sangat tidak mengenakkan hatinya. 
 Terbuat dari apa hati Nyak Salimah, apapun bentuk pengorbanan Astuti terhadap keluarganya tidak pernah ada terimanya. Mulai dari kenekatan Astuti meninggalkan kehidupan mewahnya bersama Abah dan emak serta seorang adiknya. Padahal kalau Astuti mau menuruti omongan Abah untuk menikah dengan laki-laki pilihan Abah, pasti Astutipun sudah hidup enak seperti kedua orang kakak perempuannya dan adiknya, yang begitu nikah sudah langsung menempati rumah bagus sebagai hadiah perkawianan dari Abah yang terkenal sebagai Juragan tanah itu.
            Pengorbanan lain yang dilakukan Astuti adalah, Astuti menanggung makan mertuanya setiap hari, dari uang hasil usaha Astuti sebagai tukang kredit, Padahal   Mardani tidak pernah memberikan Astuti uang sepeserpun untuk biaya hidup sehari-hari. Disamping itu, Babeh, ayah mertua Astuti, masih punya pengahasilan yang cukup kalau hanya sekedar untuk hidup mereka berdua dan dua orang anak remaja mereka yang masih sekolah. Astuti ikhlas melakukan itu, tapi buat Nyak Salimah itu belum cukup, itu seperti kewajiban yang harus dilakukan Astuti. Sekali saja Astuti lalai menyiapkan makanan, maka Nyak Salimah langsung membicarakan kelalaiannya itu kepada mantu-mantunya yang lain. Sementara babeh, hanya diam melihat perlakuan  isterinya terhadap Astuti.
            Sedikitpun Nyak Salimah tidak melihat usaha keras Astuti dalam mencari nafkah, setiap hari dari pagi sampai sore, Astuti keliling kampung mengantar barang pesanan dan menagih uang kreditan dari orang-orang yang mengambil barang darinya. Kadang Astuti menahan pegal dan sakit di kakinya, apalagi kalau sampai kakinya bengkak karena kebanyakan jalan. Semua di jalani Astuti dengan kesabaran, demi menghidupi keluarganya, demi anak-anaknya, dan demi menopang hidup mertuanya. Tapi apa yang diterima Astuti, hanya kebencian. Entah apa yang membuat Nyak Salimah begitu membenci Astuti, padahal segala daya upaya sudah Astuti lakukan untuk membuat hati Nyak Salimah melunak.
            Pernah suatu hari Astuti menanyakan hal itu pada Nyak Salimah, Apa jawabannya?, “Pokonya sebelum Babeh lu nerima Mardani sebagai mantunya dan menyayangi Mardani seperti mantu-mantu lainnya, maka Nyak juga bakal terus membenci lu, Tut,” Astuti menangis mendengar omongan Nyak Salimah.
            Dan benar, sampai akhir hayatnyapun Nyak Salimah masih terus membenci Astuti, membenci anak-anak Astuti, tapi selalu meminta lebih dari Astuti. Padahal waktu Nyak Salimah terkena serangan jantuk mendadak, Astutilah yang membawa dan merawat Nyak salimah di rumah sakit. Astutilah yang mengeluarkan biaya  rumah sakitnya. Apa ada ucapan terima kasih dari Nyak Salimah atau Mardani?, Tidak sama sekali.
            Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk berada di situasi seperti ini, tapi Astuti menjalani semuanya dengan sabar. Sabar menghadapi Ibu Mertuanya, Sabar menghadapai suaminya. Dan akhirnya, ketika Nyak Salimah menghembusan nafas terakhirnya kemarin, Astutipun masih harus sabar menghadapi-adik-adik iparnya yang tidak ada satupun yang mau bertanggung jawab atau paling tidak sedikit membatu biaya pengobatan. Semuanya di serahkan ke Astuti. Astuti, pasrah dan ikhlas.  Hanya sebait doa yang bisa Astuti ucapkan, Semoga Allah menerima segala amal baik Nyak Salimah. Dan semoga setelah ini bang Mardani bisa mengambil hikmah dan bisa merubah sikapnya menjadi lebih Baik lagi.
            Semoga kesabaran Astuti yang tiada batas ini, membuahkan balasan dari Allah, dengan balasan yang sangat Setimpal. Aamiin………

*********************
            Fakhriah Ilya. Berulang tahun setiap tanggal 22 Agustsu, lahir di Jakarta dan saat ini tinggal dan menetap di  Cikarang - Bekasi,. Lulusan Fakultas Syari’ah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Hobi menulis dari kecil, dan mulai berkarya dan menekuni dunia tulis menulis, sejak satu tahun terakhir. Mendedikasikan diri sebagai  Guru Honor di salah satu sekolah SMK swasta di Cikarang. Penulis merupakan anggota Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Ibu-ibu Doyan bisnis IIDB. Sudah mengikuti Sekolah Perempuan untk memperdalam ilmu tulis-menulis di bidang fiksi dan non fiksi. Penulis dapat dihubungi di email : fakhriaIlyas@Gmail.com


SEGITIGA PERSELINKUHAN

SEGITIGA PERSELINGKUHAN


Hana, memandang keluar jendela. Pemandangan yang tidak  indah, karena yang nampak di luar sana hanyalah kegelapan. Tapi lumayan buat mengalihkan perhatiannya dari sosok diri yang sedang terbaring di tempat tidur. Sebetulnya pikirannya tetap ke arah lelaki itu, lelaki yang selalu membuatnya gila pada gelora cinta yang tak pernah musnah. Hana selalu terlena pada geliat panasnya, sensasi desah yang menggelora itu, menebar kehangatan keseluruh tubuh, hingga tidak ada  satu bagian tubuhpun yang tidak bereaksi oleh sentuhannya.
Hana  memejamkan mata, butir-butir airmatapun tak mampu lagi dia bendung, “ ini salah, sangat salah.” Demikan nuraninya bicara. Tapi apalah daya Hana, ketika sekian tahun hasrat manusiawinya tak pernah lagi tersentuh oleh kehangatan makhluk yang bernama laki-laki. Kemudian datang dia, seseorang dari masa lalu yang  bertemu kembali setelah sekian tahun terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Dan tiba-tiba dia muncul lagi menawarkan kehangatan cinta yang telah lama padam dari kehidupannya. Hana mengutuk dirinya, Hana mengutuk suaminya, Hana juga mengutuk laki-laki itu, dan hana mengutuk syetan-syetan yang sedang menari-nari di sekelilingnya.
Perkawinan macam apa yang di jalani Hana dan Farhan, suaminya. Sepuluh tahun yang sudah dijalani, hanya 6 bulan pertama dilalui dengan gelora cinta membara, selebihnya hanya ada malam-malam yang dingin dan hati yang makin lama makin membeku. Setelah lahir seorang anak yang sekarang berusia 8 tahun, tak pernah lagi dia merasakan sentuhan hangat dari Farhan.
“Apa aku ini terlalu jelek di matamu, Mas farhan?, atau badanku bau?, kenapa kamu selalau menolakkku?” tanya Hana suatu hari dengan perasaan yang sangat terluka ketika farhan menolak sentuhannya.
“Kamu ngomong apa sih, Han, tolonglah mengerti, aku sangat lelah dan banyak kerjaan kantor yang menguras pikiran.” Jawab Farhan
“Lantas sampai kapan aku harus menunggu?, ingat ya, Mas, kalau kamu ga bisa kasih aku uang, aku bisa cari uang sendiri, tapi kalau kamu tidak memenuhi kebutuhan batinku, aku harus minta pada siapa?, ga mungkin aku minta pada laki-laki lain, kan?, itu berarti aku harus berzina dan menodai perkawinan kita, iya, kan?”
“Hana, cukup!, apa kita harus bertengkar Cuma gara-gara ini?”
“Cuma….?, Mas, ini masalah serius, jangan dianggap remeh.”
Farhan kelihatan  sangat marah dengan desakan Hana, dia keluar kamar dengan membanting pintu, begitu dan begitu seterusnya. Hana selalu di tinggalkan dengan perasaan terhina akibat penolakan dari Farhan, pertengkaranlah yang akan terjadi kalau Hana sedang menuntut haknya sebagai isteri,  dan Hana Cuma bisa menangis, ”perkawinan macam apa yang dijalaninya dengan Farhan?”, gumamnya. Salah satu tujuan perkawinan adalah menyalurkan hasrat libido secara halal, tapi kalaau sudah seperti ini…?
Hana bertahan pada perkawinan ini, hanya karena tidak berani menghadapi pandangan buruk masyarakat terhadap gelar janda. Dan Farhan?, tidak sedikitpun merasa bersalah dengan situasi ini. Tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk konsultasi ke dokter atau berobat dengan cara lain, agar bisa menjalani mahligai rumah tangga yang normal, yang saling mengerti hak dan kewajiban suami dan isteri. “Bodohnya aku….” Bisik Hana lirih.
Yah, Hana merasa bodoh, padahal kalau saja dia berani memutuskan jalan hidupnya, pasti dia tidak akan seperti ini sekarang. Kenapa dia harus melakukan hal sehina ini bersama Rizal, kenapa tidak dengan jalan yang halal saja, dia minta cerai dari farhan, kemudian dia menikah dengan Rizal. Hana semakin terisak memikirkan jalan hidup yang dilaluinya. “Ya Allah, masih pantaskah aku menyebut namaMu, setelah aku menjadi hambaMu yang hina dina ini?, kenapa aku sampai bisa mengorbankan keimananku, hanya karena nafsu bejad ini, ya Allah?”.
Di sinilah Hana sekarang, di sebuah penginapan kecil di luar kota, bersama seorang lak-laki yang bukan muhrimnya, dan ini bukan yang pertama kalinya, tapi yang sudah sekian kali dilakukannya. Pekerjaan yang sering mengharuskan dia dinas ke luar kota, memudahkan dia menjalankan perselingkuhan ini, tanpa harus bersusah-susah mencari alasan untuk izin ke Farhan bila hendak ke luar kota, karena hal ini sering dia lakukan untuk dinas. Sejak satu tahun terakir ini, dinas ke luar kota menjadi dinas yang paling disukai Hana, karena dia akan langsung menelpon Rizal untuk menyusulnya ke daerah manapun dia berdinas, dan Rizal yang memang tidak punya pekerjaan  tetap selalu siap kapanpun, jika Hana memintanya menyusul.
Rizal adalah kekasih Hana semasa dikampus dulu, harus berpisah karena Rizal harus menikahi wanita pilihan orang tuanya dengan alasan satu suku. Yah, satu suku. Tapi tiga tahun yang lalu, isteri Rizal meninggal, dan kini Rizal seorang duda dengan 2 putra. Kembali datang ke kehidupan Hana sejak mereka bertemu di acara Reuni teman-teman sekelasnya waktu di kampus dulu. CLBK, itu benar. Hana terjerat perasaan lama yang ternyata masih tersimpan rapih di hatinya, dan Rizal menjerat Hana dengan pesona kejantanan yang dimilikinya. Namun Hana tidak tahu apa Rizal pun masih menyimpan cinta untuknya atau hanya nafsu syahwat yang dia tawarkan, bagi Hana setahun bersama Rizal tidak perlu memikirkan tentang cinta, tapi kehangatan yang dia rindukan, dan Rizal punya itu.
Hana berpaling ke arah rizal yang terbaring di ranjang, Hana menghampirinya, dan duduk ditepi Ranjang di samping Rizal, dia mengambil tisu yanag ada di atas nakas di samping tempat tidur. Di bersihkannya mulut Rizal, dan Hana menunduk mencium Bibir Rizal dengan mesra, Rizal diam tak bergeming. Kemudian Hana Mengelus wajahnya. “Aku mencintaimu, Zal, sekaligus sangat membencimu, sejak aku tahu apa yang kamu lakukan di belakangku, setelah pengorbanan besar yang ku berikan padamu, tidurlah yang nyenyak….aku akan menemanimu, selamanya….” Bisik Hana di telinga Rizal. Dan Hana pun berbaring di samping Rizal, dipejamkan matanya sambil menggenggam tangan Rizal, sementara Rizal tetap  tak bereaksi.
Ternyata mata Hana tak hendak terpejam, pikirannya melayang, ke peristiwa empat hari sebelum Hana berangkat dinas ke luar kota. Hana bertemu dengan sahabatnya Latifa di pusat perbelanjaan, pertemuan yang tidak direncanakan itu menyenangkan mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang di salah satu café yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Obrolan yang ngalor ngidul itu akhirnya berujung pada curhatan Latifa yang membuat Hana terkejut dan shock.
“Suamiku, Mas Hanif, menceraikan aku.”
“Kenapa?”
“Dia tahu kalau aku berselingkuh, Han.” Latifa tertunduk ketika menceritakan itu. “Tolong jangan ceritakan ini pada teman-teman yang lain, aku mempercayaimu, Han, kamu sahabat terbaikku, makanya aku berani cerita.”
Hana terdiam, dia tidak menyangka Latifa begitu percaya kepadanya sementara dirinya sendiri tak akan pernah membiarkan orang lain tahu, betapa dirinyapun sangat kotor dan tak bermoral, “Boleh aku tahu laki-laki itu?” tanya Hana. “Maaf, itu kalau kamu tidak keberatan.”
Latifa ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia beranikan diri juga untuk berterus pada Hana. “Dia Rizal, Han, mantan kamu waktu dikampus dulu.”
“Apa….???” Tanya Hana kaget.
“Han, please,  kamu kaget bukan karena marahkan?” Latifa balik bertanya.
“Oh…eng….engga….ga apa-apa, Cuma ga nyangka aja, ko bisa?” jawab Hana, berpura-pura tidak ada apa-apa. “Terus, akhirya bagaimana Hubungan kamu dengan Rizal?”
“Setelah aku cerai enam bulan lalu, dia malah kabur, Han. Ternyata dia hanya mau bersenang-senang denganku, setelah aku memintanya serius dan bertanggung jawab, dia pergi seenaknya”
“Sejak kapan kamu berhubungan dengan dia?” tanya  Hana sambil menyimpan rasa sakit dihatinya.
“Sejak dua tahun yang lalu, waktu teman-teman baru pertama kali mengadakan reuni setelah beberapa tahun tidak bertemu, waktu itu kamu tidak datang kan, Han?”
Hana hanya diam mendengar pertanyaan Latifa, hatinya sangat terluka mendengar kejujuran Latifa, Jadi selama ini sahabatanya ternyata selingkuh dengan mantan kekasihnya, dan yang sekarang menjadi selingkuhannya juga. Wajah Hana Pucat. Akhirya dia pamit ke Latifa untuk segera pulang, dengan alasan kurang enak badan. Latifa pun menyetujui dan mereka berpisah.
Sekarang, Hana disini bersama Rizal. Dalam diam menahan luka dia lampiaskan nafsu birahinya bercampur dengan nafsu amarahnya. Ternyata Rizal adalah bajingan yang harus dimusnahkan, demikian teriak Hana dalam hatinya. Hana sudah mengorban harga dirinya, keimanannya, moralnya, menganggap Rizal adalah cinta lamanya yang bisa dijadikan tumpuan hidupnya kelak. Di dalam benaknya selama ini Rizal sangat mencintainya. Tutur katanya yang selalu manis merayu membuat Hana tersanjung dan mampu melupakan segalanya. Ternyata Rizal adalah petualang cinta, yang menggoda wanita-wanita yang terpikat kepadanya, termasuk Latifa, sahabat Hana. Dan Rizal tahu itu. Bahkan Rizal membina perselingkuhan dengannya di saat dia juga sedang membina perselingkuhan dengan Latifa, apa ini…?  Apa yang di cari Rizal….?.
Dalam luka yang begitu dalam, mengenang masa lalu yang pahit bersama Rizal, karena Rizal lebih memilih menikah dengan wanita yang di sodorkan orang tuanya, kemudian menikah dengan Farhan yang sudah membuat dia seperti wanita yang bau dan sangat jelek, sampai Farhan seakan enggan menyentuhnya. Kemudian Rizal kembali datang dan kembali melukainya dengan luka yang lebih dalam, membuatnya melambung tinggi ke awan kemudian membantingnya sangat kencang, dirinya, hatinya, semua remuk redam, hancur berkeping seakan tak mampu hidup lagi. Hana kembali menangis mengingat itu semua…
Baginya hidup tak menerimanya lagi dalam kebaikan, hidup telah menjerumuskannya ke lembah nista yang menjijikan, setan-setan berpesta pora merayakan kemenangannya, berhasil merayunya merasakan kenikmatan terlarang yang sudah dia langgar, seumur hidup  Hana menjaga kehormatan dan berusaha menjadi manusia yang selalu taat dan tawakkal, harus hancur di saat usianya yang seharusnya berada pada ketakwaan yang tinggi.
Dalam keterlanjuran dosa dan keterpurukan yang membuatnya putus asa, Hana gelap mata. Malam ini diajaknyanya Rizal bercinta, mereguk surga dunia, melampiaskan semuanya bersama desah yang menggila, seakan ingin meyalurkan hasrat sepuas diri untuk terakhir kali. Rizal terkapar puas, Hana terkapar lemas. Tertatih Hana membuat kopi yang kemudian di sodorkannya ke Rizal yang sudah duduk di tepi ranjang . Lima menit kemudian Rizal merasakan sakit di perutnya, seluruh badannya terasa panas. Rizal menggelepar-gelepar menahan sakit yang teramat sangat.
‘Ha…….na….ap…ap….paaa…ini…?” tanya Rizal dengan nafas tersengal dan mata melotot menatap Hana.
Hana yang duduk di tepi dipan, tersenyum menyeringai sambil menahan takut, menahan benci, menahan luka hati, dengan gemetar Hanapun menjawab, “i…tu…balasan mu….laki…laki jahat…!.”
“A…ku….sa…lah…appppa, Han…?” tanya Rizal dengan suara yang makin lirih.
 Mendengar pertanyaan Rizal yang seolah tidak pernah punya salah, kemarahan Hana memuncak. “Salah apa….? Salah mu adalah…kamu menduakan aku dengan Latifa!, Kamu menjerumuskan aku kelembah nista, Kamu membuat aku menjadi wanita binal dan gila!, Kamu…..???!!!!” Hana tak mampu melanjutkan kata-katanya, diapun terisak dan meraung di samping Rizal yang sedang sekarat. “Kamu ternyata orang jahat Rizal, huk….huk….huk…..aku pikir…..perselingkuhan ini….akan berakhir bahagia, aku cerai…dari Mas Farhan, dan kita menikah, tapi  ternyata…..kamu makin membuaku merasa hina….dengan menduakan aku dan Latifa, sahabatku.”
“Han,……to…long….a….ku….a….ku…” Rizal terkapar, benar-benar terkapar. Matanya melotot, seluruh badannya membiru, buih putih mengalir dari mulutnya, Hana duduk bersila disamping Rizal yang sudah tidak bernafas, Bingung tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, entah apa yang dirasakannya sekarang, sedih, takut, marah, benci, dendam, semua sudah samar. Dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari matanya,  Hana meluruskan tubuh Rizal seperti sedang tertidur rapi.
Sekarang Hana terbaring di sisi Rizal, tatapan matanya kosong, dia meyakini apa yang dilakukannya itu benar, Hidupnya sudah kadung serba salah, Seandainya dia tidak melakukan ini, bagaimana dia menghadapi Farhan dan anaknya, kalau mereka sampai tahu, kalau isteri atau ibu yang dianggapnya soleha ternyata sudah berselingkuh, bagaimana dia menghadapi Latifa, sahabatnya, kalau Latifa sampai tahu bahwa diapun berselingkuh dengan Rizal.
Hana tak mampu lagi berfikir jernih, di baringkan tubuhnya di samping Rizal, setelah sebelumnya diapun meneguk sisa kopi yang telah diminun Rizal. Kepedihan hati yang sangat dalam,  membuat Hana tak mampu merasakan sakit  akibat racun tikus yang dituangkan Hana ke dalam kopi tersebut. Hana hanya meringis sambil memejamkan mata dengan kerasnya, seperti Rizal, dia pun sempat menggelapar, menggeliat menahan sakit, buih putih  keluar dari mulutnya, setelah itu Hanapun terkapar lemas dan akhirnya tidur untuk selamanya di samping Rizal……..

HEADLINE NEWS KORAN PAGI……DITEMUKAN DUA SOSOK MAYAT  DI VILLA BUKIT INDAH, DI DUGA PASANGAN SELINGKUH…..


                                                                        By : Fakhria Ilyas
                                                                        Cikarang, 13 April 2017




     

Sabtu, 15 April 2017

Megalomania

MEGALOMANIA

Buat apa kekuasaan, kalau  akan jadi  beban.
Buat apa pujian, kalau bakal jadi racun kehidupan.
Buat apa kesombongan,  kalau pada akhirnya kita Akan kembali menyatu dengan tanah dimasa depan.

Jadi, banyak orang yang gila kekuasaan, sampai rela melakukan segala cara untuk mendapatkannya, tidak peduli cara halal atau haram,  legal atau ilegal. Jika nafsu sudah bersarang di  badan maka semua di anggap sah-sah aja.Iya, sih?, iyalah.  Apa sih tujuannya?  Kehormatan pastinya. Dia beranggapan, dengan mempunyai kekuasaan banyak  orang yang akan menghormatinya. Padahal belum tentu juga, apalagi kalau banyak orang yang tahu, kekuasaan yang dia peroleh dipaksakan.

Ada juga lho orang yang gila pujian,  ingin di anggap berprestasi, dia beli berbagai piala, yang dipajang di lemari  kaca, yang berharap decak kagum dari tamu yang bersandang ke  rumahnya. Idih, hahaha.... Aja deh. Tapi buat apa juga harus memaksakan diri seperti itu.

Malah ada yang senang di jilat-jilat sama anak buahnya yang hobi jilat (yang ini saya makin uwek). Jadi bos hanya menyayangi anak buah yang menyanjungnya setinggi langit, saking gila sanjungan, apapun kesalahan anak buah ga kelihatan. Yang dia lihat jilatannya,  padahal tuh si anak buah sambil jilat sambil ngomong dalam hati, "Oon  lu boooos,  gue kadalin mau aja..."

Hmmmmm. Bagaimana orang sombong?, yang mengaggap diri paling kaya, paling pinter, paling suksek, paling...paling... Paliiiiiiiiiiiiing.....Hallah  mak, Apa sih yang harus kita sombongin, kalau sejatinya kita tidak bisa lepas dari pertolonganNya, apalagi yang namanya manusia itu makhluk zoon politicon, makhluk yang membutuhkan manusia lainnnya untuk bersosialisasi, karena memang manusia membutuhkan manusia lainnya, untuk jadi kuat, juga membutuh makhluk lain sebagai symbiosis mutualisme.  Saling membutuhkan, take and give.  Ya, kan? Ya,  dong......?

Nah,  dah tahukan apa yang dimaksud megalomania?, cape lho jadi manusia kayak gitu, apalagi jadi manusia sombong. Buat apa?, Kita ini berawal dari setetes air mani yang kotor, bau pula. Jadi apa yang harus di sombongin? Saya mah  ogah jadi orang sombong...tapi sih saya juga yakin all Of my freinds in medsos are good persons......insya Allah.....

#inspirasiminggudpi
#Fakhriah

Cikarang, 14 April 2017

Selasa, 11 April 2017

Mencumbu Angin

Mencumbu Angin.....

Tahukah kau?.
Ketika desirmu menggodaku
Mengajakku melepas rindu
Dan aku tersipu mau....

Tereguklah nikmat itu
Nikmat syahdu dalam bisu
Hanya gerak gairahmu
Menari indah di tubuhku

Kala hasrat memabukkan mu
Jiwaku terangsang gairahmu
Ragaku merengkuh nafasmu
Kitapun melebur nafsu

Ku tahu anganku gila
Ku tahu hayalku luka
Ku tahu hatiku lara
Ku tahu cintaku nestapa

Dan kau angin,
Desirmu bagai rayu bisiknya
Hembusmu bagai belai mesranya
Ku cumbu dirimu serupa cumbunya
Angin, ku rindu dia......

Puisi Rindu
By : Fakhria Ilyas

12 April 2017

Apa kabarmu hari ini?

"Sayang, hari ini aku sibuk, jadi aku ga bisa  datang ke rumahmu" itu katamu dua minggu lalu lewat video call.
Padahal waktu itu kamu sudah janji untuk menjemputku ke rumah, dan akan mengajakku jalan-jalan.

Aku kecewa, kemudian aku pasang wajah cemberut, kamu tertawa melihat ekspresiku. Dengan lembut kamu membujukku untuk tidak ngambek, "Sayang, please...aku ada kerjaan mendadak, bos tiba-tiba menyuruhku menemui klien"

Dengan nada kekanakkan aku merajuk, "itu artinya, hari sabtu ini aku  libur sendiri tanpa kamu?, terus malam minggupun harus aku lalui sendiri?"

"Gimana yah sayang....hmmmm.." kamu berfikir, ga lama kamu bilang, "ok, gini deh  , aku jemput kamu, terus kamu ikut aku ketemu klien, tapi kamu nunggu aku di mobil, ga usah turun, setelah selesai, kamu ikut aku ke kantor dan nemanin aku lembur,  setujukah, sayang?"

Jujur aku sangat suka dengan ide itu, yang penting bagiku adalah bisa bersamamu, ga perlu jalan-jalan atau kemanapun, cukup bersamamu, berada di sampingmu, melampiaskan rindu yang selama 6 hari harus tertahan karena kesibukan kerja.

"Ok, aku setuju" kataku dengan wajah yang kembali ceria. "Kamu jemput aku kan?, aku tunggu yah..." Kamu mengangguk sambil tersenyum geli melihat tingkahku. Video callpun di tutup setelah sebelumnya kita saling ber kissbye ria.

Dua minggu yang lalu, bersamamu dunia terasa begitu indahnya, duduk di sebelahmu yang terlihat mempesona, membuatku bak seorang putri yang di bawa keliling dunia oleh sang pangeran. Di sela-sela mengendarai mobilmu, kau sering melirik ke arahku, melempar senyum manis, mengerlingkan mata indahmu, sesekali kau belai rambutku. Aku melambung.....melambung tinggi ke awan.....kurasakan cintamu begitu besar, menyesakkan rongga nafasku. Gemuruh dadaku pun bagai gelombang dahsyat yang suaranya menggelegar menerjang batu karang. "ooooooh, cintaku, nuraniku tak mampu lagi berkata tidak pada hasrat yang menggelora..." bisik lirih di hatiku.

Dua minggu lalu itu, kita telusuri jalan yang lumayan panjang, berdua. Setiaku menemanimu, sebagai bukti, kau sangat berharga bagiku. Setiamu memintaku menemanimu, adalah bukti aku sangat berarti bagi dirimu.

Cintaku, apa kabarmu hari ini?.  Seminggu sudah kita lewati tanpa komunikasi, setelah aku bilang, "selamat tinggal" pada cinta yang membuatku gila. Tak mampu ku tahan cemburuku pada setiap rekan kerja wanitamu, phobia kehilanganmu, yang malah bener-bener membuat aku kehilanganmu. Kamu pergi dengan hati luka.

Aku terlalu manja kan, cinta?. Kamu seperti lelah menghadapi manjaku. Kamupun lelah menghadapi kecurigaanku, kamu bilang, "ok...goodbye"

Cintaku, apa kabarmu hari ini?, apa semua kenangan hilang terhapus kecewamu?, sementara di memoriku, bayangmu, dan segala kemesraanmu masih sangat jelas di ingatanku.

Cintaku, apa kabarmu hari ini?, sungguh aku rindu.........

*Fakhria Ilyas*
Cikarang, 11 April 2017.

Minggu, 09 April 2017

CINTA

Cinta.....?,

Padanya, saya meleburkan rasa. menyatukan segala asa, melebur menjadi satu keutuhan yang mengorbankan keegoisan. menganggap dia sumber kehidupan, yang akan mati jiwa dikejauhan raganya, yang akan terhenti nafas di kebekuan sikapnya. itu saya....
Dia, seharusnya sama. tapi dia berbeda, baginya saya adalah nuansa sehari yang dinikmati di saat lengang. setelah itu dia pergi bersama kepuasan diri, tak hendak menyatukan jiwa dan raga, dan saya....terhempas.


TERHEMPAS

Malam, ketika hanya ada suara desir angin Di beranda sunyi, aku menatap awan Bintang bersembunyi membiarkan langit sepi Rembulan muram da...