Sabtu, 29 April 2017

Menari Di Tepi Senja

Cerpen BP

MENARI DI TEPI SENJA

Aku memandang jauh ke depan, ke arah dimana matahari bersiap menyembunyikan dirinya, menebar bias jingga dan mencipta nuansa senja yang membuatku selalu rindu pada yang mencipta. Dari tepi laut di sebelah sini, ditemani semilir angin, liuk lambai pohon kelapa dengan sebotol aqua di tanganku, aku seakan enggan beranjak meninggalkan segala keindahan alam ini.
Melayanglah lamunanku pada legenda hidup yang melempar ku pada takdir yang tak kukehendaki. Takdir yang mempertemukanku pada teman hidup yang kucintai dan mencintaiku. yang tek perlu ku temukan rintangan untuk menyatukan cinta kami dalam kehalalan Ilahi.
“Ayah merestuimu, Nak, Ibumu juga” kata ayah dalam sungkem restu kami berdua.
Aku haru dan bahagia, Kang Asep pun tersenyum ceria, “Terima kasih, Ayah, Ibu”. Dalam ku ungkapkan terima kasihku.
Kebahagiaan berumah tangga, saling mencurahkan rasa cinta, tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Apalagi ayah langsung menghadiahi kami rumah yang kami rasa cukup besar untuk kami dan anak-anak kami kelak. Sikap Kang Asep yang lembut, dan dewasa, sholeh dan menjadi menantu yang bisa mengambil hati ayah, membuat kehidupan kami menjadi sangat mudah.
Sebagai seorang guru honor, gaji Kang Asep memang tidak seberapa, mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami walau belum di karunia anak. Tapi, ayah yang memang terkenal sebagai salah satu orang kaya di kampung kami, yang memiliki sawah berhektar hektar, tidak akan pernah sayang memberikan 2 hektar sawahnya untuk kami. Seperti yang telah ayah berikan juga kepada anak-anaknya yang lain. Dari hasil sawah itu kami merasa hidup berkecukupan, di tambah lagi Ayah sering memberikan uang secara langsung kepada kami anak-anaknya walau kami sudah menikah.
Dua tahun kemudian lahirlah putra pertama kami yang ganteng, persis seperti kang Asep, baik wajah maupun kulitnya. Kami beri nama dia Anugerah Pratama. Kemudian di susul dengan putri kedua kami, yang lahir di dua tahun berikutnya, dan kami beri nama Yunita. Selanjutnya menyusul lahir Puspita, putri ketiga kami, di usia ke enam perkawinan kami. Bener-bener perkawinan yang sempurna, memiliki suami yang sholeh, anak-anak yang ganteng, cantik-cantik, sehat, dan lucu. Apalagi yang ku cari dalam hidupku?, tidak ada.
Suatu hari, di usianya yang baru satu tahun, Puspita terserang sakit panas. Aku membawa Puspita ke rumah sakit, tanpa di temani Kang Asep yang kebetulan sedang sibuk mengajar, di samping itu aku memang terbiasa mengerjakan sesuatunya sendiri, karena buatku sebagai seorang isteri, aku memang lebih suka mandiri, tidak harus selalu menunggu suami pulang untuk melakukan sesuatu yang ku anggap penting. Apalagi ini berhubungan dengan kondisi anak yang sedang sakit. Nunu dan Yuni ku titipkan sama Ibu.
Di rumah sakit aku daftar ke bagian dokter anak, ternyata di sana sudah banyak pasien yang antri. Aku menunggu antrian dengan sabar, Untungnya Puspita  tidak cengeng, dia tertidur di gendonganku. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku ajak ngobrol seorang ibu muda sepertiku, yang sedang menggendong anaknya juga, yang paling hanya selisih 3 bulan lebih muda dari Pita. Parasnya cantik, dandanannya sedikit seksi, tapi  tutur katanya halus dan sopan. Kami berbincang banyak hal tentang pengsuhan anak, lumayan luas juga pengetahuannya tentang itu, aku sangat senang ngobrol dengannya, sampai tidak mendengar waktu suster memanggil nama puspita untuk masuk ke ruang dokter. Aku masuk ke ruang dokter. Setelah selesai Puspita di periksa, aku pamit kepada Siska, wanita  yang ngobrol denganku tadi, untuk segera menebus obat dan pulang.
Siska, ternyata  tinggal tidak jauh dari rumahku, masih satu kecamatan tapi beda keluharan. Kami sempat saling bertukar nomor telpon rumah, waktu kami berbincang asik di rumah sakit. Keakraban yang terjalin di rumahsakit itu, membuat kami ingin melanjutkan pertemanan ini, aku janji untuk datang ke rumah Siska suatu hari nanti,  bila ada kesempatan dan anak-anak sedang bisa di titipkan di rumah neneknya. Siska sangat berharap itu bisa terwujud.
Pas kesempatan itu tiba, datanglah aku ke rumah Siska.  Dia menyambutku dengan sangat ramah. Rumah kecil dan sederhana tapi sangat sejuk, dan asri. Karena di halaman kecil rumah itu di tanami  beraneka warna pohon bunga, “mari masuk Mbak Dian,” ajaknya sambil menarik tanganku ke dalam. 
“Si kecil kemana?” tanyaku, sambil duduk di kursi tamu setelah di persilahkan oleh Siska.
“Ada Mbak, itu di kamar, lagi dikelonin bobo siang sama papanya.”  Jawab Siska, sambil bangkit dan berjalan ke arah kamar, “pa, ini lho ada temanku, aku kenalin dulu yuk…” demikian ku dengar suara Siska dari arah kamar sedang memberitahukan suaminya tentang kedatanganku. Siska dan suaminyapun keluar kamar  dan aku mendapat kejutan yang sangat tak terduga.
“Kang Asep, Kamu……???”
“Dian….Aku…..”
Kuhampiri Kang Asep, dan tanpa sadar ku tampar pipinya dua kali dengan sangat kencang. Setelah itu aku berlari keluar tanpa memperdulikan keheranan Siska,  Ku kendarai motorku dengan kencang. Hatiku sangat hancur dan terluka, jiwaku limbung. Entah bagaimana aku bisa sampai ke rumah dengan selamat, hanya Allah yang tahu yang telah melindungiku. Aku berlari ke kamar dan menangis se jadi-jadinya. “Gila!, Ini gila!, jadi selama ini Aku sudah tertipu dengan tampang Soleh Kang Asep?,  Tuhan, kenapa harus aku?, kenapa harus aku yang Kau beri cobaan berat ini?” ku ratapi nasibku, duniaku  gelap seketika. Untung anak-anak ku titipkan di rumah Ibuku, jadi aku bisa melampiaskan tangisku sepuas-puasnya.
Tidak lama kemudian  Kang Asep muncul dihadapanku, rupanya dia segera menyusulku setelah aku pergoki dia di rumah Siska, selingkuhannya. “Dian, maafin aku…” 
“Pergi kamu, Kang!,  jangan pernah injakkan kaki kamu di rumah ini lagi!, Pergiiiiii!, aku muak lihat tampang polos kamu!” teriakku tanpa memberikan kesempatan dia untuk bicara.
“Dian…! Dengerin penjelasanku dulu…!”
“Pergi…..semuanya udah jelas! Kamu penghianat!, kamu memanfaatkan aku dan orang tuaku untuk dapat hidup yang layak, setelah kamu dapatkan itu, kamu menikahi kekasih yang sangat kamu cintai, yang kamu jadiin isteri siri kamu, dan menghidupinya dari uang orang tuaku. Menjijikan…! Pergi kamu sekarang..! Pergiiiii!!!” aku kembali berteriak.
Kang Asep pun pergi, meninggalkan kepedihan di hatiku. Hari-hari selanjutnya aku tuntaskan semua urusanku  dengan Kang Asep.  Bagiku, perbuatannya kepadaku tak termaafkan. Ternyata dia itu sudah berhubungan dengan Siska selama tiga tahun, satu tahun pacaran, kemudian menikah. Makanya, usia anaknya hampir se usia Puspita, putri bungsuku. Itu ku ketahui dari cerita Siska di rumah sakit, waktu dia sedikit menceritakan tentang suaminya. Aku bersyuku Allah menunjukkan penghianatannya dengan cara Allah mempertemukan aku dengan Siska, jadi aku tidak terlalu lama di bohongi oleh laki-laki keparat itu, laki-laki yang dengan mudahnya menodai arti suci perkawianan, padahal selama ini hidupnya sendiri masih bergantung pada orang tuaku.
Ayah dan Ibu yang mendengar masalah ini dari ceritaku tanpa aku tambah-tambahin, akhirnya mendukung keputusanku untuk cerai dari Kang Asep. Ayah dan Ibu ikut terluka pastinya. Pun dengan anak-anak, tapi ini yang terbaik, bagiku membesarkan anak-anak seorang diri itu lebih baik daripada aku membesarkan anak-anak dengan orang munafik seperti Kang Asep. Dan bagiku Dia sudah mati.
Semakin besar anak-anak semakin mengerti dengan pilihan hidupku, untuk tidak pernah membahas Ayahnya di depanku, walau aku memberikan kebebasan kepada mereka untuk menemui ayahnya kapanpun. Alhamdulillah mereka tumbuh menjadi anak-anak yang manis, sehat dan cerdas. Sekarang mereka masing-masing sudah berkeluarga.
Takdirku adalah kesendirianku, walau bukan takdir yang ku kehendaki. Tapi, aku terlanjur menikmati  kesendirian ini, menikmati hari-hari bersama kepedihaan luka yang teramat dalam.  Aku bahagia, bahagia karena telah meraih kesuksesan, mengantar anak-anak mewujudkan impian dan cita-cita mereka, meski dengan langkah terseok dan tertatih,  setelah terhempas dari harapan yang terlanjur menjulang tinggi. Dan kini, aku bahagia menikmati kematangan usia yang ku punya, menatap senja di kesenjaanku, menari di tepinya, di temani desir angin semilir. Dan disinilah Aku, menikmati sisa-sisa hari yang ku punya……

*****************

Fakhria Ilyas
Cikarang, 27 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERHEMPAS

Malam, ketika hanya ada suara desir angin Di beranda sunyi, aku menatap awan Bintang bersembunyi membiarkan langit sepi Rembulan muram da...